UNIK ITU TRUNYAN
The Island of God, julukan yang diberikan kepada pulau Bali karena keunikan budaya yang tiada duanya, julukan ini diberikan oleh orang belanda yang datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah dan menemukan pulau Bali dengan budayanya yang unik. Satu dari ribuan budaya yang unik adalah Desa Trunyan, yang merupakan objek wisata mistis di Bali yang terkenal dengan pemakaman uniknya.
Desa Truyan terletak disebuah desa administratif yang berada di
kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli yang menawarkan keindahan alamnya yang
sungguh mempesona serta sisi eksotisme adat serta budaya, tradisi pulau dewata
yang menjadi daya tarik tersendiri.
Asal Mula Nama Desa
Trunyan
Menurut legenda,
pohon Taru Menyan ini dulu baunya sampai tercium hingga Keraton Solo yang
jaraknya beratu-ratus kilometer dari Bali. Karena bau wangi itulah, empat
bersaudara dari Keraton Solo mencoba untuk mencari sumbernya. Hingga empat
bersaudara yang terdiri dari satu perempuan dan tiga anak laki-laki itu rela
mengarungi daratan hingga ganasnya lautan untuk bisa menemukan sumber bau
tersebut. Pada akhirnya mereka sampai pada Desa Trunyan dan menemukan sumber
bau yang sangat harum tersebut. Dimana bau yang harum itu bersumber dari pohon
besar yang bernama Taru Menyan.
cara pemakaman kuburan Trunyan
Namun setelah
menemukan sumber bau wangi tersebut, kakak sulung dari empat bersaudara itu
justru jatuh cinta pada seorang Dewi yang menjadi penunggu pohon Taru Menyan.
Tak berselang lama, kakak sulung tersebut akhirnya menikahi sang Dewi. Setelah
menikah, hadirlah sebuah kerajaan kecil yang letaknya persis ditepi danau
Batur, tempat pohon itu tumbuh. Meskipun sang Dewi telah menikah, namun pohon
Taru Menyan masih terus mengeluarkan bau yang sangat harum. Karena takut
diserang oleh kerajaan lain karena bau semerbak dari pohon Taru Menyan, maka
sang Raja memerintahkan penduduk kerajaan menghilangkan bau wangi dengan cara
meletakkan beberapa jenazah tepat dibawah pohon tersebut. Cara itu ternyata
berhasil, karena pohon Taru Menyan sudah tak mengeluarkan bau wangi dan jenazah
yang ada dibawah pohon itu juga tak mengeluarkan bau busuk. Sampai saat ini
masyarakat Desa Trunyan masih melakukan pemakaman dengan cara meletakkan
jenazah begitu saja dibawah pohon Taru Menyan. Namun yang dimakamkan di tempat
tersebut hanya orang yang berhati mulia.
TEMPAT PEMAKAMAN YANG UNIK
Masyarakat Desa Trunyan,
Kabupaten Bangli, Bali memiliki tradisi yang unik sekaligus cukup menyeramkan.
Karena tak seperti masyarakat Hindu lainnya yang melakukan ngaben (upacara
pembakaran mayat), saat berkunjung di Desa Trunyan kita tidak akan
melihat mayat yang dimasukkan ke peti atau di bungkus, melainkan semua mayat
akan dibiarkan begitu saja tergeletak di tempat khusus yang bernama Seme Wayah.
Dan setelah itu tugas anggota keluarga yang masih ada atau masih hidup cukup
memagari jasad yang sudah mati dengan bambu dan kemudian menyimpan sesaji
disampingnya. Mayat yang ada di
makam Trunyan ini tidak menimbulkan bau busuk. Malah bau harum yang tercium.
Tidak Menimbulkan Bau Busuk [image source]
Bau harum tersebut berasal dari pohon besar bernama Taru Menyan yang berada
di tengah makam. Warga sekitar pun percaya jika akar dari pohon ini yang
menyerap bau busuk dari mayat.
Bau Wangi Dari Pohon di Pemakaman [image source]
Beberapa mayat yang sudah menjadi tulang belulang dikumpulkan menjadi
satu. Hal ini agar mayat yang baru dapat diletakkan di sebelah pohon Taru
Menyan.
Tulang Belulang yang Diletakkan di Akar
[image source)
Tidak semua orang mati bisa diletakkan di makam ini. Tentu saja ada persyaratannya, mulai dari status hingga kematian yang wajar atau tidak. Hanya pada kondisi
tertentu saja jenazah dapat dimakamkan seperti ini. Syarat jenazah yang dapat
dimakamkan dengan cara tersebut adalah mereka yang pada waktu meninggal
termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan
dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal, orang-orang yang meninggal
dalam keadaan wajar dan tidak terdapat luka yang belum sembuh, serta memiliki
bagian tubuh yang lengkap. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, maka jenazah
disemayamkan dengan cara dikubur
[image source]
Trunyan juga memiliki hal lain yang tak kalah
menarik. Yaitu Barong Brutuk.
Barong Brutuk, adalah tarian Barong yang sangat
kuno dan hanya ada di Desa Trunyan yang sejak ratusan tahun lalu dihuni oleh
warga Bali asli. Tarian ini menggambarkan kehidupan para leluhur di zaman dulu.
Menurut sebuah sumber konon Barong Brutuk ini adalah unen-unen (anak buah) dari
leluhur orang Trunyan, yakni Ratu Sakti Pancering Jagat dengan istrinya Ratu
Ayu Dalem Pingit Dasar.
Hawa mistisnya memang kental. Karena itu pula banyak sekali
wisatawan yang belum percaya jika tidak melihat secara langsung. Oleh
sebab itu, kita sebagai generasi muda Indonesia patut berbangga dan berusaha untuk selalu menjaga,
melestarikan dan mengenalkan budaya tersebut agar tidak punah.





Wahh, artikelnya menarik sekali. Saya jadi tahu info wisata di Bali. Makasi ya
BalasHapusartikelnya bagus kak,,terus kita menjadi tahu tempat wisata di Bali yang menarik,apalagi menjelang waktu libur...
Hapusya terimakasih. semoga bisa bermanfaat.
BalasHapusartkelnya bagus widhi,menarik sekali untuk dibaca,semangat
BalasHapusartikelnya sangat menarik dan bagus untuk dibaca kk,, saya juga bisa lebih tau kebudayaan yang ada di desa trunyan.
BalasHapusBagus bagus🙏👍👍
BalasHapusartikelnya keren banget
BalasHapusBagus dik
BalasHapusHi Widhi, topik yang kamu angkat di artikelmu ini menarik, mengangkat tentang salah satu keunikan budaya dan tradisi di Bali, tapi kalau boleh koreksi, kamu juga harus memperhatikan font,ejaan sama pemilihan kata yang kamu gunakan di artikelmu supaya semakin bagus, tapi menurutku artikelmu ini sudah baik, semoga semakin baik di tulisan berikutnya ya!. anyway, aku nggak tau lho kamu ternyata punya blog, hehe,, keep going Widhi!, semangat!.
BalasHapus